Cinta adalah Sebuah Dakwah! Review Pudarnya Pesona Cleopatra

Judul : Pudarnya Pesona Cleopatra

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Republika

Tebal Buku : x+109 hlm


ISBN : 978-979-3604-00-8






“Cinta tidak menyadari kedatangannya, sampai ada saat perpisahan."(Khalil Ghibran)


 Pudarnya Pesona Cleopatra adalah sebuah novel yang berisikan dua cerita, ditulis dengan apik oleh Habiburrahman El Shirazy. Selain menjadi seorang novelis, Kang Abik—nama panggilannya—juga merupakan sutradara, dai, pimpinan pesantren, sastrawan dan penyair. Kang Abik begitu menghidupkan latar belakang semua novelnya. Wajar, mengingat Kang Abik merupakan lulusan Universitas di Cairo.

Pudarnya Pesona Cleopatra tak hanya menyajikan kisah roman picisan. Banyak hikmah yang bisa pembaca petik. Walau tipis, novel ini berhasil membuat saya menitikan air mata. Bagaimana kisah Raihana menjadi istri yang taat dan mencintai suaminya. Mini novel yang mengisahkan bagaimana seorang pemuda yang begitu menggilai wanita-wanita mesir yang terkenal bermata jeli.

Terkadang Allah menghadirkan cinta dengan sangat terlambat. Bukan tanpa alasan, melainkan agar manusia lebih menghargai tentang arti sebuah perasaan. Lagi-lagi, fatamorgana tidaklah nyata. Kang Abik pun selalu menyelipkan syair-syair indah di setiap karyanya.

Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam diriku,
Tak kutemui inginmu
Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam hidupku,
Tak kutemui legamu
(Fatin Hamama-Ibu)

Sebuah mini novel yang mengajarkan bagaimana seharusnya kita menyayangi orang tua dan mencintai karena Allah. Untukmu yang mencari kisah penyejuk hati Pudarnya Pesona Cleopatra bukan kisah yang pantas dilewatkan.


Mini Novel Kedua : Setetes Embun Cinta Niyala

Jika dari kisah di atas kita menemui seorang lelaki yang begitu mencintai ibunya. Maka di mini novel ini, kita akan menjumpai Niyala yang terpaksa harus menggadaikan cinta dan masa depannya untuk sang ayah. Bencana datang saat sang ayah mengirimi surat untuk Niyala. Konflik batin yang kuat mampu menguras energi saat membaca setiap katanya.

"Bukankah dakwah adalah sumber cinta, Ayah? Apakah menikah dengan selain Roger, menikah dengan lelaki yang jauh lebih bersih dalam pandangan-Nya tidak juga dakwah!?" (Hlm. 58)

Saya tidak akan membocorkan sedikitpun kisah Niyala. Demi apa pun, saya nangis baca kisah Niyala. Perfect, ringaan dan penuh pesan moral.


No comments