Saat Hidup Kadang Tak Sesuai Harapan: Review Writer vs Editor



Judul: Writer vs Editor
Penulis: Ria n. Badaria
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Ketebalan: 311 hlm
ISBN: 978-979-226-5866
Tahun Terbit: 2011
Genre: Metropop
Rate: 4/5


Hidup memang terkadang berbanding terbalik dengan apa yang kita harapkan. Sebagai manusia kita hanya bisa merencanakan, namun tuhan yang menentukan.  (Hlm. 07)

Novel bergenre metropop ini ditulis oleh Ria n. Badaria. Ria sendiri adalah penulis yang meraih penghargaan Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008-2009. Apa yang kalian pikirkan saat membaca judul dari Writer vs Editor?

Awalnya saya mengira buku ini adalah catatan untuk bekal penulis menghadapi editor, seperti karya Om Luna. Namun, tebakan itu meleset saat saya membaca halaman pertama. Ria berhasil di langkah pertama dengan memikat pembaca dari judul. Siapa sih yang enggak mau jatuh cinta, apalagi sama editor sendiri?

Novel ini di awali dengan kisah hidup dua tokohnya, Nuna yang penuh perhitungan sampai membeli ponsel pun tak mau. Terlebih di era modern ponsel begitu menjadi kebutuhan utama selain makan. Lalu kisah Rengga yang harus kecewa karena gagal menjadi reporter dan berakhir sebagai seorang editor di Global Books.

Pembaca diajak membayangkan bagaimana kisah susahnya perjuangan seorang Nuna yang bermimpi menjadi penulis. Ditolak berkali-kali dari penerbit membuatnya memutuskan kerja di sebuah swalayan. Rencana Tuhan siapa yang tahu, kisah hidup Nuna dimulai saat mendapat surat dari Global Books.

Novel perdana membawanya bertemu dengan segala kesialan dan keberuntungan. Siapa yang mau bertemu dengan editor serese Rengga? Lalu saat harus bertemu dengan cinta pertama yakni Arfat.

Namun, ada yang harus saya tandai. Di balik kesempurnaan diksi Ria n. Badaria yang menceritakan kisah Nuna, tetap ada kekurangan yang menurut saya cukup mengusik. Penulis kurang menggambarkan setting yang digunakan, kisah ending mudah ditebak. Saya kurang setuju kalau novel ini dimasukan ke genre Metropop, karena Writer vs Editor ini lebih fokus ke drama percintaan Nuna, Arfat dan Rengga.

Selain ketiga nama  tokoh di atas, tentu saja yang paling menarik adalah karakter bernama Radit. Sosok Radit membawa warna sesungguhnya di novel ini. Saya membayangkan jika tiada Radit maka bosan sudah saya membaca cerita ini. Lalu, backstory saya rasa masih bisa dikembangkan. Bayu, mantan Nuna hanya sekadar tempelan. Padahal, di novel ini Bayu lah sumber utama kenapa Nuna enggan menggunakan ponsel.

Cinta bukan oksigen, jadi biar pun tanpa cinta kita akan tetap hidup dengan baik. (Hlm. 254)

Kisah percintaan diangkat dengan begitu apik menggunakan gaya khas anak ibu kota. Bagaimana debaran hati Nuna saat bertemu dengan cinta pertama dan bagaimana saat Nuna harus memilih di antara dua lelaki yang menawarkan cinta. Namun, saya kecewa dengan ending yang tak begitu memuaskan dan terkesan menggantung. Hati saya memberontak ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah Nuna setelah dua tahun ditinggalkan Rengga. Selamat kepada Mbak Ria n. Badaria yang berhasil membuat saya menitikan air mata menjelang akhir-akhir bab novel ini.




No comments